









Lanjut lagi.. ceritanya… 😀
Kanjeng Sultan begitu mendengar hal itu, sangat senang dan bahagia di hatinya, merasa mendapatkan rahmat besar memperoleh seorang penghulu yang sudah sempurna akan pengetahuan agama. Sang raja kemudian berkata manis, “Oh, Tuan Imam, mungkinkah kiranya dia bersedia diangkat menjadi penghulu di Mataram?” Kanjeng Imam menjawab, “Oh, tentu, tentu dia akan bersedia. Memang sudah sepatutnya demikian. Selain paham, dia pun dapat melihat takdir. Jika sang raja singgah ke desa Keramat-Watu dan mengunjungi kediamannya, tentu dengan senang hati ia menyanggupinya ke Mataram.”
Demikianlah, selesai bersembahyang Jumat, Kanjeng Sultan pulang, beliau singgah dahulu ke desa Karamat-watu. Kebetulan ki santri sedang menyiangi tanaman kebun. Begitu melihat ada tamu datang, dengan tergopoh-gopoh menj emput dan menyalami sambil membungkukkan badan. Kanjeng Sultan dipersilakan duduk di atas balai-balai di dalam. Ki santri cekatan menghidangkan buah-buahan apa adanya. Kanjeng Sultan berkata kepada ki santri bahwa dirinya sudah dipamitkan kepada Sang Imam. Dan mendapat salam dari Imam Syafi’i. Ki Santri duduk di tanah dan berkata sambil memegangi kepalanya, bersyukur kepada Allah.
Kanjeng Sultan berkata lembut, “Wahai Kisanak, janganlah duduk di bawah, lebih baik duduk berdampingan di sini saja.” Ki Santri menjawab lirih, “Jangan sungkan, duduklah saja di atas, saya duduk di bawah saja, dingin.” Kanjeng Sultan berkata lagi, “Bila ki sanak agak penat karena habis mencangkul, sebentar lagi tentu angin bertiup dan dapat menyembuhkan kelelahan itu.”
Ki Santri menjawab, “Ah, betulkah itu. Mana mungkin ada angin dapat menghilangkan kelelahan? Padahal di sini adalah tempat yang banyak angin besar.” Sedang asyiknya bercakap-cakap, tiba-tiba angin bertiup dan berbau harum, meresap ke dalam tubuh memulihkan tenaga. Ki Santri keenakan, lalu mengantuk. Sang raja tersenyum melihatnya. Kemudian ki santri terkejut mendengar suara ombak lautan yang menerpa pantai di desa Karamat-watu, langsung bangun dan gugup, tertawa terpingkal-pingkal sambil menunduk, katanya, “Ah, memang benar, sungguh nyata kata-kata yang tuan ucapkan.” Sang raja berkata ramah, “Duh ki sanak, jangan tanggung-tanggung persahabatan kita, ki sanak saya ajak ke Mataram, untuk saya jadikan sebagai kawan tempat bertanya, dan kami anggap sebagai pinisepuh.” Ki Santri tidak menolak, hanya saja karena dia mempunyai anak-istri, minta untuk menyusul saja, dan ke mana harus menuju? Sang Raja menjawab, agar ki santri langsung menuju alun-alun yang di tengahnya ditumbuhi dua batang pohon beringin kurung…!!! Ki Santri setuju. Kanjeng kemudian pamit, segera melesat menuju Mataram.
Tersebutlah, demikianlah keadaan ki santri yang ditinggal di Keramat-watu, ketika turun dari pertapaannya, mengajak anak-istrinya berangkat ke Mataram. Perjalanannya diiringkan oleh sukma, terkabullah permohonan ki santri sekejap mata, sudah sampai di alun‑Mataram. Sampai di alun-alun kemudian duduk dibawah pohon beringin untuk istirahat. Istrinya bertanya,dan di manakah desanya?”Ki Santri menjawab:”Ah, entah ya, aku lupa tidak menanyakan nama dan tempat tinggalnya.” Sedang asyiknya bercakap-cakap, Sang raja sudah sampai di dalam kraton. Sebentar saja sudah mengetahui bahwa ki santri pun sudah tiba di Mataram. Setibanya sang raja di keraton, kemudian memerintahkan untuk memanggil orang-orang yang berteduh di bawah pohon beringin kurung, serta memerintahkan kepada semua orang, jangan ada yang menyapa kepada mereka.
Sesampainya di hadapan Baginda, Kyai Karamat-watu gemetar karena takut. Sang raja berkata:”Kisanak, janganlah kau khawatir dan enakkan hatimu. Atas perintahku, kau kujadikan, penghulu, tinggallah di dekat masjid besar.” Ki santri menyatakan terima kasihnya, sanggup melaksanakan tugas itu. Kemudian langsung diperkenalkan dengan para bupati, perdana menteri, dan para senapati, ditentukan pula bahwa is berhak mendapatkan tanah untuk dikerjakan di desa.
Ki Pengulu kemudian tinggal di situ. Atas berkah Kanjeng Sultan, ki Panghulu telah berkembang kekayaannya. Banyak harta dan anakcucu, laki-laki dan perempuan banyak yang ikut menjadi pegawai kraton mengabdi kepada kerajaan. Banyak pula orang yang datang dari luar negeri dan bersahabat baik dengan ki penghulu. Hal yamg demikian itu sesungguhnya akan menambah ketenteraman negeri Mataram. Ki Penghulu terkenal tekun beribadah, paham dan arif akan masalah-masalah agama.
Leave a Reply