









Sudah dari sananya… manusia senang bahkan memperhatikan sejarah… !!! Dari sejak kecil pun… sudah ada ‘kurikulum’ mengenai dongeng… cerita… babad.. etc..!!! Sewaktu remaja pun… banyak yang tergila-gila dengan cerita silat ntah Kho Ping Ho.. etc.. !!! Nah… ini ada kisah.. dari berbagai sumber… yang menceritakan mengenai Sultan Agung…!!! 😀
Raja besar dari Kerajaan Mataram, yaitu Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja yang sekaligus sebagai wali, pandai syariat agama Islam. Mengingat statusnya sebagai raja tanpa banding, tekun beragama, suka hidup prihatin, berlaku sabar, bijaksana, perwira dan sangat sakti laksana dapat terbang tanpa sayap. Rakyatnya hidup tentram dan damai, makmur, sehat wal afiat, segala yang ditanam dapat tumbuh dengan suburnya.
Kanjeng Sultan ditakuti oleh musuh dari negeri lain..!!! Segala sesuatu diatur oleh hukum. Perdana menteri negeri itu sangat sentosa, sakti dan juga penyabar. Para prajurit selalu siap tempur, para pengikutnya sakti mandraguna. Hulubalang raja yang dibanggakan, yaitu Kanjeng Pangeran Adipati Panembahan Purbaya, merupakan paman Sri Sultan sendiri. Akan kesaktian sang Pangeran Adipati Panembahan Purbaya itu, tak diragukan lagi dan tidak ada bandingnya di seluruh pelosok Jawa ini.
Sedangkan Sri Sultan lebih suka bertapa, mementingkan penyucian diri, ingin meniru satria yang dianggap sebagai leluhurnya, yakni Raden Arjuna satria dari Madukara. Maka setiap habis sembahyang Subuh, Kanjeng Sultan lalu pergi berwisata menghibur diri ke gunung Lawu. Dari gunung Lawu kemudian menuju gunung Merapi, dari situ kembali lagi ke Gunung Lawu, dari gunung Lawu meloncat ke gunung Mahameru di Malang. Dari gunung Mahameru menuju ke gunung Lawu lagi, kemudian kembali ke istana dan sibuk menerima para abdi seperti biasanya. Hal yang demikian itu berlangsung terus-menerus.
Pada suatu hari, ketika sang raja sedang berkelana pulang baik dari gunung Mahameru sampai ke gunung Merapi seperti biasanya, baru saja berjalan empat kali pulang balik, beliau dipanggil dengan lambaian tangan oleh seseorang yang duduk di atas batu besar di tepi danau, Kanjeng Sultan mendekati orang tersebut sambil mengucapkan salam.
Yang duduk di atas batu itu tak lain adalah Kanjeng Sunan. Sunan Kalijaga, menjawab, “alaikum salam!” Kanjeng Sultan kemudian duduk di hadapan Sunan Kalijaga sambil menunduk.
Sunan Kalijaga berkata, “Wahai, ananda raja yang mulia berkat rahmat Tuhan dapat menguasai seluruh Jawa, mengapa ananda berbuat seperti itu? (maksudnya berpindah-pindah dari gunung ke gunung) Kanjeng Sultan menjawab, “Tak apa-apa, hanya daripada diam saja seusai sembahyang subuh, saya sering mencoba melestarikan/mengikuti kisah pada zaman Sang Arjuna. Jika ingin enak badan, ya pergi meloncat-loncat antara gunung ke gunung seperti ini.
Kanjeng Sunan Kalijaga menjawab sambil tersenyum, “Seperti anak kecil saja, hanya menurutkan kata-kata yang tidak pasti. Meskipun ananda dianggap sebagai dewa, tetapi karena sudah memeluk agama Islam lebih baik pergilah bersembahyang Jumat di Mekah, siapa tahu pengetahuan ananda akan bertambah.”
Seketika pikiran Sultan terasa jernih, sungguh benar apa yang diucapkan Sunan Kalijaga. Kanjeng Sultan merasa malu dan hanya bisa menunduk. Kanjeng Sunan Kalijaga mengetahui hal itu, dan langsung mengucapkan salam kemudian menghilang.
Sepeninggal Kanjeng Sunan Kalijaga, Kanjeng Sultan berniat untuk melanjutkan berloncatan antar gunung lagi, tetapi tubuhnya terasa sangat berat, maka beliau sadar bahwa tidak diperkenankan. Pada hari itu kebetulan hari Jumat Legi sekitar jam sebelas siang, Kanjeng Sultan bemiat pergi Jumatan ke Mekah. Berhubung dipikir masih terlalu pagi, maka kepergiannya singgah dahulu ke Imam Syafi’i di Mekah.
Tersebutlah ketika sang prabu akan berangkat ke Mekah, sudah sampai di tepi samudra, Kanjeng Sultan mendengar seseorang memanggil-manggil namanya, “Anak muda berhenti sejenak, saya titip pesan sedikit.” Sang raja sangat terkejut, dengan wajah tersenyum Sang Raja mendekat dan bertanya, “Akan berpesan apa?” Jawab orang itu “Katakan kepada Kanjeng Imam, hari ini saya minta izin tidak bersembahyang Jumat, karena sibuk menyiangi tanaman di kebun yang rumputnya sudah tinggi-tinggi.”
Kanjeng Sultan agak heran, kemudian katanya, “Bila Kanjeng Imam bertanya, siapa nama anda, ki sanak ?” Orang itu menjawab, “Ah, tidak perlu anakanda tanyakan itu, nanti kesiangan tiba di sana.” Kanjeng Sultan mengucapkan salam kemudian berangkat. Tidak diceritakanlah keaadaan selama dalam perjalanan, Kanjeng Sultan sudah sampai di Kabatullah.
Yang akan mengikuti sembahyang Jumat sudah lengkap. Kanjeng Sultan Agung berkata kepada Kanjeng Imam Syafi’i bahwa dirinya dititipi pesan dari seseorang yang tinggal di desa Karamat-watu. Dia minta izin hari ini tidak dapat megikuti sembahyang Jumat. Kanjeng Sultan menjelaskan keheranannya bahwa orang yang seperti itu bisa pergi ke Mekah. Kanjeng Imam Syafi’i menjawab sambil tersenyum. “Oh, ananda Kanjeng Sultan, janganlah ananda heran. Mendingan Kanjeng Sultan datang ke sini pada hari Jumat, tetapi kalau orang- orang di Karamat-watu datang bersembahyang ke sini setiap hari lima kali : Subuh, zuhur, ashar, magrib, Isa selalu ke sini. Sebab dia memang sudah paham dan tamat, menguasai kaidah agama, maka seumpama dia mengabdi kepada tuan menjadi pengulu besar, sungguh akan menambah keluhuran dan ketenaran negeri tuan.”
Leave a Reply