









Well,… kemaren rekan-rekan Bikerz se Jakarta yang dikoordinir oleh Road Safety Association (RSA) menyerukan penolakan pembatasan motor di Jakarta, khususnya akan diberlakukannya pembatasan motor di jalan protokol setelah lebaran nanti …!!! Opini gue sendiri… dari awal gue menolak yang namanya pembatasan motor dalam segala bentuk apapun… mau bentuk lini produksi nya kek… mau mobilitas di jalanan protokol kek… mau pajak progresip kek … etc…!!! Singkatnya semuanya lebih banyak membawa dampak mudhorat daripada manfaatnya … dan ujung-ujungnya membikin rakjat tambah susaaaah …!!! Mari kita bahas atau persempit hanya tentang pembatasan motor … !!! 😀
Jika dilakukan pembatasan, maka yang akan terjadi adalah pada area-area tertentu motor harus diparkir… dan dilanjutkan dengan kendaraan umum …!!! Dari sisi biaya saza… taroghlah walaupun jarak tinggal dekat… maka sang bikerz kudu rela merogoh kocek tambahan biaya untuk parkir dan naik kendaraan umum …!!! Taroghlah…. biaya parkir termurah adalah Rp. 1000 dan biaya angkutan busway sekitar Rp. 3500,- … berarti jika ada kurir surat… maka ia kudu rela merogoh kantong bolak-balik Rp. 9000,- untuk sepucuk surat yang akan diantarkannya… !!! 😀
Itu baru tambahan ongkos operasional,… jika diperbolehkan memasuki wilayah… paling juga dengan tarif parkir plus bensin… nggak nyampe Rp. 2000,- ongkos yang dikeluarkan… !!! Belum lageee,… penyediaan lahan parkir … waktu yang semakin bertambah… desek-desekan… resiko kecopetan…resiko pelecehan seksual… etc yang bersifat intangible… yang harus ditelan para bikerz… baik cowok ataupun cewek …!!! Lho… kebijakan yang diperlukan adalah kebijakan transportasi massal, dimana parameter keberhasilannya adalah efektif dari sisi waktu tempuh… dari sisi kenyamanan, dan efisien dari sisi biaya… mau dibandingkan dengan semua moda transportasi …!!!
Lhaaa… kalau gitu sulit dong mas 3 …??? Yaagh, i think… sebagai pembuat kebijakan… itulah tantangan yang harus dihadapi… toh pembuat kebijakan digaji yaagh kudu menghasilkan kajian yang bagus …!!! Kalau cuma membuat kebijakan yang membuat high cost economy… yo semua orang bisa… !!! Dampak high cost economy jelas… secara real kemakmuran rakjat akan berkurang… alias akan semakin banyak orang yang jadi kereee …!!! Lha kalau sekedar membuat rakjat jadi kereee… buat apa pembangunan dilaksanakan susah-susah… buat apa kemerdekaan Indonesia diraih… apabila tujuannya cuma mebuat rakjat sengsara… !!! Monggo direnungken… toh si pembuat kebijakan tidak akan duduk empuk… jika tidak ada warga pengguna motor yang memilih mereka… betul tho… ??? 😀
Leave a Reply