









Rombongan Pangeran Benawa… sedang istirahat di Randulawang… ketika tiba-tiba saza ada laporan dari pasukan telik sandi Pajang… bahwa ada rombongan Mataram yang kelihatannya menuju ke Randulawang … !!! Seorang Prajurit melaporkan, “Rombongan Mataram dipimpin langsung oleh Kanjeng Senopati … tampaknya mereka akan menjemput rombongan ini, Paduka Pangeran …!!!”. Pangeran Benawa pun berkata, “Baiklah kita tunggu rombongan Mataram Kakang Senopati di sini… !!!”. Adipati Tuban begitu kesal mendengar perkataan Pangeran Benawa ini… namun ia nggak bisa apa-apa coz… ketua rombongan Pangeran Benawa… jadi kudu ngikuuut apa kata road captain … !!! 😀
Adipati Tuban… merasa jika bukan Pangeran Benawa yang jadi ketua rombongan… tentu ia sudah labraaak Senopati… !!! Ia masih penasaran mengenai keampuhan Senopati bermain tombak… !!! Apalagi Kanjeng Senopati laagh yang membunuh Aryo Penangsang dengan tombak Kyai Plered … !!! Lamat-lamat terlihat rombongan Mataram dipimpin dengan gagahnya oleh Kanjeng Senopati… terlihat rambutnya yang dibiarkan panjang… tertiup angin berkibar-kibar… !!!
Melihat Kanjeng Senopati tersenyum… Pangeran Benawa langsung turun dari kudanya dan diikuti oleh Kanjeng Senopati… keduanya langsung saling berangkulan… !!! Rasa rindu terbersit pada kedua orang tersebut… baik Pangeran Benawa ataupun Kanjeng Senopati… !!! Patih Manca Negara pun tampak haru… terbayang di matanya… bahwa ia turut mengasuh anak kandung Ki Ageng Pemanahan tersebut … !!! Ia turut mengasihi Kanjeng Senopati… demikian pula Pangeran Benawa… !!!
Kemudian Pangeran Benawa berkata, “Kakang Senopati,… aku diutus oleh Kanjeng Sultan untuk menemuimu. Kanjeng Sultan mendengar bahwa kakang membangun pagar tinggi laksana benteng pertahanan. Kakang melatih prajurit-prajurit pilih tanding Mataram seolah-olah mau pergi berperang. Apakah semua itu benar… ??? Apakah Kakang hendak melawan kekuasaan Ayahanda Sultan Hadiwijaya… ???”
Kanjeng Senopati pun berkata, “Benar … aku membangun pagar tinggi dan melatih prajurit-prajurit Mataram… hanya semata-mata untuk keamanan Mataram… !!! Demikian pula beringin kurung yang ditanam… merupakan tanda / peringatan pembukaan hutan Mentaok… !!! Semua itu sebagai wujud syukur kepada Allah SWT dan Kanjeng Sultan Hadiwijaya … yang telah memberikan hutan mentaok kepada Ayahanda… Ki Ageng Pemanahan…!!! Wujud syukurnya… adalah dengan membangun.. membuat tentram rakjat Mataram… dan mensejahterakannya … !!! Apa salah Kakang,… jika aku membangun wilayah yang diberikan… sehingga rakjatnya menjadi makmur… aman dan sejahtera… ???”
Pangeran Benawa pun… akhirnya dapat mengerti akan keadaan ini .. !!! Namun ia pun mencoba mengejar dengan pertanyaan susulan… “Lantas kenapa Kakang tidak juga menghadap kepada Ayahanda Kanjeng Sultan … ???”. Dengan diplomatis Kanjeng Senopati menjawab, “Dinda Benawa,… apabila pembangunan Mataram telah selesai… aku pasti menghadap Kanjeng Sultan… !!! Sebagai utusan dari Kanjeng Sultan,… perkenankan aku untuk menyambut dan mengantarkan rombongan Dinda Benawa… untuk melihat-lihat keadaan Mataram… !!!”
“Akan aku tunjukkan pagar tinggi dan beringin kurung yang diributkan itu… !!! Berikan kesempatan kepada aku… untuk menjamu rombongan yang mungkin lelah menempuh perjalanan ….!!!” Kanjeng Senopati mempersilahkan Pangeran Benawa naik gajah beriringan dengan gajah yang dikendarai oleh Kanjeng Senopati… !!! Terlihat rombongan besar itu menuju Mataram… namun terlihat jelas Adipati Tuban… masih menampakkan ketidaksenangannya… dan tampak menahan amarah yang bergejolak… !!! 😀
Link Terkait :
Leave a Reply