









Well… ganti topics dikit yah.. 😀 Bosen juga bahaz technical motor, gue mau sedikit bahas mengenai depresiasi khususnya motor…??? Depresiasi itu sebenernya adalah suatu proses alokasi cost dari suatu asset yang kita miliki. Biasanya yang didepresiasi adalah building, equipment, kendaraan bermotor etc. Tanah nggak didepresiasikan.. so jadi tuan tanah bisa menguntungkan… asal nggak diserobot orang aze..!!! But anyway, kadang menarik untuk disimak… jika kita sebagai manager perusahan..dan kemudian punya asset berupa motor gimana kira-kira yang pazz metode / cara melakukan depresiasinya…??? Oke kita lanjutin pembahasan ini… just click more to continue..!!! 😀
Didalam menghitung depresiasi ada beberapa faktor yang perlu ada dan akan dihitung sebagai contoh : Jika kita punya motor bebek merk A, dibeli dengan harga Rp. 13 jeti. maka komponen pembelian tersebut disebut cost. Faktor yang kedua adalah Useful Life.Nah ini mungkin yang cukup sulit menentukan, kira-kira motor yang elo beli itu… udah obsolete / kuno ..udah nggak ada support partz nya kira-kira berapa tahun…??? Mengapa ini cukup sulit.. karena motor beda dengan komputer yang sebentar aza udah usang… dan kita susah mencari lagi misalnya processor pentium III dipasaran dsb. Tapi motor… apalagi motor bebek.. yang jenis mesinnya hampir sama dari tahun ke tahun… menyebabkan stock partz nya masih banyak… !!! Useful life ini bisa ditetapkan dengan satuan waktu, misalnya saza 5 tahun, 10 tahun dsb. Atau dengan satuan mileage…!!! Dalam artian… motor yang dipakai sekali sebulan dan setahun paling 1000km, pasti berbeda keadaannya dengan motor yang dipakai tiap hari dan setahun sudah mencapai 15000km misalnya. Dalam artian tingkat keausan engine, transmisi dsb…!!!
Faktor yang ketiga adalah Salvage Value, yaitu nilai jika setelah habis useful lifenya..kira-kira kalau dijual bisa dapat nilai berapa ??? Bisa saja nilai salvage valuenya Rp. 0 (nol rupiah), karena misalnya komputer udah usang.. cuma bisa dikasih ke tukang loak.. tapi kalau motor.. mungkin masih ada harganya walau sekian ribu rupiah…!!!
Mari coba kita formulasikan faktor-faktor tersebut :
Metode penghitungan depresiasi ada bermacam-macam sebagai contoh :
Dengan metode straight line, yaitu metode yang menghitung depresiasi berdasarkan useful lifenya, dan menghitung berdasarkan kisaran waktu. Untuk kasus contoh diatas, maka penghitungannya sbb :
Depreciable cost = Cost – Salvage Value = Rp. 13 jeti – Rp. 1 jeti = Rp. 12 jeti
Annual Depreciation Expense = Depreciable cost / useful life = Rp. 12 / 4 = Rp. 3 jeti
Jadi dari sini aza didapat penghitungan sebesar = Rp. 3 jeti per tahun. Gimana jika ditetapkan useful life nya 6 tahun, yah annual depreciation expense nya jadi Rp. 2 jeti.
Teruz gunanya apaan seh…??? Yah kalau elo jadi manager, perlakuan depreciation policy ini bisa mempengaruhi profit elo…!!! Yah kalau elo punya revenue sebagai pengusaha ojek misalnya… jika 12 jeti setahun, teruz udah dikurangin dengan partz (oli, service dsb) dan pajak misalnya 3 jeti setahun… maka setelah dikurangin dengan deprecation expense bisa menjadiRp. 6 jeti margin elo jika nerapin useful life 4 tahun, dan bisa menjadi Rp. 7 jeti margin elo jika nerapin useful life 6 tahun.
So message gue di artikel ini adalah… penerapan depreciation policy bisa menjadikan income statement elo overstated atau understated… !!! Apalagi jika elo jadi Direktur suatu perusahaan… dan elo bakalan dapat bonuz jika margin perusahaan melebihi sekian persen… atau elo punya saham..dan dividen akan dibagikan berdasarkan keuntungan… nah policy ini tentu akan menguntungkan jika elo pilih useful life yang tepat…!!! Gimana kalau elo jadi direktur multi national company… berapa keuntungan yang bakal diraih gara-gara masalah depresiasi aza… !!! 😀
So.. masalah penetepan policy depreciation…mirip yee kayak nyetel carbu aza… tinggal berapa pilot/main jet aza … mau gimana deh akhirnya… !!! 😀
Leave a Reply