









Alhamdulillahil ladzii hadaa naaa… Biabdihil mukhtaari man da aaa-na… Ilaihi bil-idzni wa qod naa daaa naaa ... Labbaika yaa man dallanaa wa hadaaa naa …!!!
Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammadin thibbil quluubi wa dawaa iha, wa’aafiyatil abdani wa syifaa iha, wanuuril abshoori wa dhiyaa iha, wa’ala alihi wa shohbihi wa sallim … amma ba’du …!!!
Mari kita lanjutkan pembahasan ngaji hikmah dari Syeikh Ibnu. Athaillah… hikmah ke-7 dari Kitab Al-Hikam sbb :
لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ الْـمَـوْعُـوْدِوَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ
La yusyakkikannaka fiil wa’di adamuw wuquu’il mau’uudi wa inn ta’ayyana dzamanuh. Lialla yakuuna dzaaalika qadhaan fiii bashiiratika wa ikhmaadaan linuuri sariiratik.
Artinya :
“Jangan sampai janji yang tidak dipenuhi Allah pada waktunya, membuatmu ragu terhadap janji-Nya, agar keraguan itu tidak menjadi perusak mata hati (bashirah) dan pemadam cahaya hatimu”
Dalam Al-Quran terdapat banyak janji Allah yang akan dipenuhi untuk kaum muslimin, tanpa mengaitkannya dengan permintaan dan doa. Secara prinsip, pemenuhan janji tersebut, jika kaum muslimin menjalankan berbagai perintah atau kewajiban yang dibebankan kepada mereka …!!! Persoalannya adalah pemenuhannya itu waktunya kapan …??? Disini seringkali kita mengukur dengan pemahaman waktu yang kita inginkan,… padahal disini kapan waktunya adalah waktu yang dikehendaki Allah,… bukan waktu yang kita tentukan …!!! So ini esensinya … terkadang kita gak sabar… dan ujung-ujungnya ada yang meragukan akan janji-janji Allah …!!! Ini yang dapat mengakibatkan rusaknya mata hati (bashirah) dan padamnya cahaya sirr kita …!!!
Sebagaimana Rasulullah SAW ketika bermimpi akan memasuki Masjidil Haram, Mekah (tercantum pada Qs. Al-Fath : 27), dimana pada awalnya belum bisa masuk akhirnya ada perjanjian Hudaibiyah. Jadi sudut pandang waktu itu ditentukan oleh Allah, bukan ditentukan oleh makhluk-Nya… so ini tauhid yang mendasar… dimana yang punya kuasa itu Allah … bukan manusia (la hawla wala quwwata illa billah) …!!!
Demikian pula kisah Nabi Ibrahim as dengan istrinya Siti Sarah yang sudah tua (kurang lebih berusia 90 tahun red.), namun ketika Nabi Ibrahim as berdoa “robbi hab lii minash-shooliḥiin” … maka dikabulkan doa tersebut, dan kabar tentang itu disampaikan oleh para malaikat…. sebagaimana terdapat pada Qs. Hud : 72 – 73 sbb :
قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ
قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
qoolat yaa wailataaa a alidu wa ana ‘ajuuzuw wa haażaa ba’lii syaikhoo, inna haażaa lasyai`un ‘ajiib. qooluuu a ta’jabiina min amrillaahi roḥmatullohi wa barokaatuhuu ‘alaikum ahlal-baiit, innahuu ḥamiidum majiid
Artinya :
Dia (istrinya) berkata, “Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” Mereka (para malaikat) berkata, “Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih.” (Qs. Hud : 72-73).
Jadi jangan pertanyakan janji Allah… karena Allah tidak akan cidera janji (innalloha laa yukhliful-mii’aad) terdapat pada Qs. Ali-Imran : 9, … dan jangan sekali-kali mempertanyakan kepada Allah … justru manusia nanti yang akan ditanya… jangan sebaliknya… sebagaimana “laa yus`alu ‘ammaa yaf’alu wa hum yus`aluun” yang artinya “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya” pada Qs. Al-Anbiya : 23 …!!!
Terus singkatnya bagaimana … ??? Simple nya adalah tetap berusaha / ikhtiar secara maksimal dalam beribadah (baik mahdhah dan ghairu mahdhah), kemudian setelah ikhtiar maksimal kita lanjutkan berdoa, dan dilanjutkan dengan tawakal … apapun ketetapan Allah, kita harus ridho …!!! Terus dilakukan dengan kesabaran,… kemudian apapun yang diberikan kembali harus bersyukur … atas segala karunia dan rahmat yang diberikan Allah SWT …!!!
Demikian artikel singkat ini… semoga bermanfaat dan menambah keimanan kita semua. Wallahu muwafig ila aqwamith thariq, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… !!!
Baca juga :
Hikmah ke 3, Tekad yang kuat tidak mampu menembus dinding takdir
Hikmah ke 4, Urusan yang diatur oleh Allah gak usah ikut campur
Hikmah ke 5, Tanda-tanda mata hati mulai buta
Hikmah ke 6, Tetap laaagh berdoa jangan putus asa
Hikmah ke 7, Jangan ragu akan janji Allah
Hikmah ke 8, Ijtiba salah satu jalan menuju Allah
Hikmah ke 9, Jenis Amal Ibadah beragam disebabkan keberagaman warid
Leave a Reply