









Dear Kanjeng Pembaca sekalian,… ada satu pertanyaan yang bikin ‘jleeeb’ dari seorang kawan… dan juragan nggak bisa jawab …!!! Speechlesss … domblooong… ngowoooh… berkunang-kunang… aseliiii… langsung mengerti kemana arah pertanyaan tersebut …!!! Yup,… kawan ini bertanya “Pabrikan sudah keluar duit… sudah capek-capek minjemin motor… apa wajar dapat review negatif …???”. Gimana mempertanggungjawabkannya ….???
Ia pun menceritakan… berbicara agar obyektif… jika ia melakukan tugas… tidak mau ada hal yang mengakibatkan ‘bias’ … bahkan untuk segelas air mineral pun… ia tidak meminta… kantornya yang mensupply semua …!!! Pembicaraan semakin hot… jika kita sebagai konsumen… sudah ngeluarin duit… tentu saja tidak mau mendapatkan product yang ‘cacat’ walau pada bagian tertentu… !!! Baret dikit aja sudah complain… tujuh turunan kaleee… mau nya perfect … betul thooo …???
Lha sebaliknya… hal yang sama juga diinginkan oleh pabrikan …!!! Pabrikan sudah keluar duit… mbuuugh kuwi direct expenses atau indirect expenses … tentu punya harapan… atau boso kerennya key performance indicator …!!! Opo kuwi… yooo harus direview bagus … harus direview perfect… sama persis harapan konsumen ketika sudah keluar duit… ingin mendapatkan product yang bagus bin perfect …!!!
Lha kalau direview negatif gimana… atau ada bagian tertentu … direview negatif gimana …??? Yo kuwi jenengeee kurang ajiiiaaar… lha wong konsumen juga kalau mendapatkan product yang cacat… yooo pasti bilang pabrikane kurang ajiiiar …!!! Lha terus… sang reviewer nggak bisa leluasa dong… ntaaagh itu ‘terpaksa’ membagus-baguskan… atau ‘menutupi’ kekurangan jika ditemui …!!! Yaaagh tidak ada pilihan… lha wong ada ‘take and give’ kok… kecuali tidak ada ‘take and give’ … alias semuanya dengan duit sendiri… bebas dari kepentingan … betoeeel …??? Ciaaaoooo 😀
Leave a Reply