









Genderang perang sayup-sayup sudah terdengar di kelas 250cc..!!! Kawasaki sudah nontonin New Ninja 250R di PRJ. Yamaha udah ngetest jalan-jalan Fazer 250..!!! Honda juga lagi nyimpen kartu As nya untuk kelas ini.. Objective nya cuma satu be a winner di kelas 250c…!!! Sebagaimana hal nya pertarungan MotoGP maka perlu ada kerjasama yang erat antara teknisi dan rider… demikian juga untuk memenangkan perang di kelas 250cc maka perlu ada kerja sama antara primary activities (ibaratnya rider) dan supporting activities (ibaratnya teknisinya)… Hal inilah yang dicermati oleh Michael Porter dengan teori yang cukup terkenal yaitu Value Chain… 😀
Teori Value Chain ini dikeluarkan oleh Porter tahun 1985 (udah cukup lama neh), pada bukunya yang menjadi best seller yaitu Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. Value Chain sebenernya terdiri dari beberapa activities untuk menciptakan / menambah suatu value. Dan target akhir dari pembuatan value tersebut adalah margin / profit bagi organisasi. Activities tersebut dikelompokkan atas 2 bagian yaitu :
Primary Activities (sebagaimana terlihat di gambar diatas) terdiri dari serangkaian aktivities yaitu Inbound Logistic, Operation, Outbound Logistic, Marketing and Sales, dan Services.
Diusahakan pada primary activities, kegiatan tersebut dilakukan secara efektif dan efisien. Karena kalau nggak efektif… productnya bisa nggak bener.. banyak defect dsb… Kalau nggak efisien.. productnya ok.. tapi kemahalan.. yah sama juga boong…
Selain Primary activities, supporting activities pun nggak kalah pentingnya. Mengapa…?? Yah seperti teknisi aza.. (inget Jeremy Burgess..!!) nggak ada supporting activities ..nggak jalan primary activities… macet…!!! Supporting activities terbagi atas kegiatan sbb :
Jika Value Chain ini diterapkan misalnya pada perang / ‘fight’ di kelas 250cc ….kudu juga sedikit menggabungkan dengan jurus ‘Activity Based Costing (ABC)’ .. bukan kecap ABC lho… yang simplenya… aktivitas yang aneh-aneh.. yang buang-buang duit.. nggak ada sumbangannya dengan product.. dibuang… apalagi jika udah nerapin target costing… misalnya untuk motor merk A 250cc ini, harga jual udah dipatok sebesar x jeti.. cost nya maksimal 85%… yah berarti seluruh kegiatan harus punya maksimum budget cost… atau dengan kata lain…. cukup nggak cukup.. kudu cukup… nah kalau gini baru.. jadi mikir… dan setiap aktivitas akan melaksanakan secara serius… dan customer akan mendapatkan motor yang sesuai dengan value atau cost yang dibayar….!!!
Leave a Reply