









Akhirnya…. Raden Said semakin peka… semakin tahu persis apa yang dihadapi oleh rakjat Tuban …!!! Ia menyaksikan sendiri rakjatnya sehari makan sehari tidak… jika makan pun cuma makan tiwuuul …!!! Jauh sekali dari kondisi di istana kadipaten Tuban… dimana serba wah… serba magrong-magrooong …!!! Ilmu yang dipelajari… ditambah dengan ‘ilmu jalanan’ membuat dirinya semakin matang…alias jalam limpat seperempat tamat … dalam artian karena sudah cukup matangnya ilmu yang diperolehnya… maka ia sudah menguasai persoalan… apa yang harus dilakukan… !!! 😀
Persoalan semakin tambah ruweeet ketika para aparat / pamong yang ditugasi mengambil upeti dari rakjat…. mengambil berkali-kali lipat dari semestinya… !!! Semestinya tidak progresif… namun dikenai progresif… dengan berbagai alasan… inilaaagh itulaaagh …!!! So rakjat nya bukan semakin makmuuur… namun semakin kelengeeer …!!! Naaagh yang disetor ke kadipaten cuma sebagian… sebagian lageee ditimbun oleh para aparat / pamong aka oknum …!!! Jadilaah dalam waktu singkat para pamong itu… rumah nya menjadi magrong-magrong… makan serba enak… baju pun serba mewah … dimana seluruhnya dari memeras rakjat … !!! Jadi kalau sekarang ada model ‘Gayus’ yooo uwesss ket biyeeen sudah ada model seperti itu …!!!
Raden Said merasa lemas… ia seperti tidak bisa melakukan sesuatu… ia merasa tidak ada gunanya… kuasa tidak punya… harta pun tidak punya… !!! Bagaimana caranya agar ia bisa menolong rakjatnya yang tidak mampu …??? Ia merasa gemas… dengan para pejabat / oknum yang tidak merasa risih… hidup berfoya-foya dengan duit haram … padahal duit yang diperoleh dari cucuran keringat, darah bahkan nyawa para rakjat di kabupaten Tuban …!!! Akhirnya ia mencoba… jika ada kesempatan ia akan mengadukan hal ini kepada Ayahandanya … Tumenggung Wilatikta …!!!
Ketika Raden Said akan menghadap kepada Ayahandanya… terlihat Ayahandanya sedang ngobrol bersama Ibunda dan adiknya Dewi Rasawulan…!!! Topik pembicaran mengenai Dewi Rasawulan selaku adik Raden Said sudah sepantasnya untuk menikah… mengingat pada waktu itu ia sudah termasuk tua… dan Ayahanda dan Ibundanya sangat khawatir… jika terus begitu… anaknya nanti tidak laku… !!!
Tumenggung Wilatikta juga menyadari… bahwa tentu tidak sembarang orang bisa melamar putrinya …!!! Apalagi ia diserahi amanah oleh Gusti Allah… untuk memilih calon suaminya anaknya … kriterianya yaagh kudu masuk dengan bobot (calon pelamar), bibit (bagaimana keturunannya) dan bebet (bagaimana perekonomiannya) …!!! Calon yang berminat memang telah ada… yaitu seorang ulama terhormat…. dan ini menjadi pertimbangan dari Tumenggung Wilatikta ….!!!
Raden Said yang ikut berada dalam pembicaraan tersebut… tidak dapat menutupi kesedihannya… dan ia ingin mengutarakan tentang nasib rakjat Tuban… dan kelakuan pada pamong / oknum Kadipaten… yang berlaku seewnang-wenang kepada rakjatnya … !!! Ia pun menunggu-nunggu waktu yang tepat agar ia bisa memulai topik bahasan ini … !!! Bagaimana hasil pembicaraan Raden Said dengan Ayahandanya… tunggu episode berikutnya … !!! 😀
Leave a Reply